Menolak Panas

Salah satu faktor yang menentukan kenyamanan di suatu rumah adalah kenyamanan dari segi suhu udara. Yang biasa kita rasakan itu semakin tinggi suhu di dalam rumah, maka akan semakin tidak nyaman kita di dalam rumah dan ingin cepat2 menyalakan AC, atau kipas angin, atau sekedar membuka pintu dan jendela.

Sebenarnya sih tidak cukup kalau cuma ngomongin suhu udara karena kelembapan dan juga ada/tidaknya udara yang bergerak juga dapat mempengaruhi kenyamanan. Tapi mari fokus ke persoalan suhu udara dulu karena ini yang biasanya paling keras disebut 😅

Sumber yang membuat rumah panas itu ada dua, yaitu dari luar (matahari) dan dari dalam (kompor, pemanas air, komputer, bitcoin miner, dll). Yang ingin saya bahas di sini itu yg pertama, yaitu bagaimana cara menangani sumber panas dari luar.

Penghalau Panas

Sebenarnya teknik membuat rumah tidak panas itu gampang, yaitu jangan biarkan si panas ini masuk ke dalam 😬 Yang panas biarkan di luar, dan yang di dalam dijaga supaya suhunya tidak terpengaruh suhu luar.

Contoh paling sedarhana dan sangat penuh kearifan lokal adalah dengan menggunakan tirai bambu. Tirai ini diletakkan di luar sehingga cahaya matahari yang panas akan terhalau dan tidak banyak yang terus masuk ke dalam rumah.

Gambar tirai bambu yang saya ambil tanpa izin dari salah satu lapak di Tokopedia. Saya tidak memiliki afiliasi apa2 dengan penjualnya.

Cara yang lebih alami dan berguna bagi lebih banyak makhluk adalah dengan menanam pohon2an di sekitar rumah. Pohon yang rindang akan menjadi penghalau sinar matahari untuk masuk ke dalam rumah.

Desain rumah juga bisa berperan dalam menghalau panas masuk. Misalnya dengan penerapan double skin yang akan memberikan lapisan tambahan sebelum panas masuk ke dalam rumah. Penggunaan kanopi atau bagian-atap-yang-menonjol-ke-luar (apa ya istilahnya? soffit?) juga berperan sebagai penghalau panas.

Gambar diambil dari www.yourhome.gov.au

Rumah saya berada di dalam perumahan cluster yang memiliki aturan tampak luar rumah harus sama dengan yang lain. Selain dari penambahan tirai, pohon, dan kanopi, tidak banyak yang bisa ubah dari segi desain. Namun untungnya, desain standarnya pun sudah menambahkan extra shading di sekitar jendela sehingga cahaya matahari dari posisi tinggi dapat sedikit terhalau dan tidak langsung masuk ke rumah.

Insulasi

Selain menambahkan material di luar rumah untuk menghalau panas, ada cara lain untuk membuat panas tidak masuk ke dalam rumah: yaitu dengan mengatur material kulit rumah (dinding, kaca, dan atap).

Berdasar petualangan saya mencari referensi mengenai insulasi selama ini, sepertinya insulasi adalah teknik yang tidak umum digunakan di Indonesia. Memang sih penggunaan insulasi itu selain membutuhkan teknik yang sedikit berbeda, juga memerlukan material yang berbeda dan/atau lebih banyak yang akan mempengaruhi biaya pembangunan rumah.

Pada dasarnya penggunaan insulasi bertujuan agar panas dari tidak mudah masuk sampai dalam ketika si panas sudah sampai ke kulit luar rumah. Material dinding yang berbeda akan memberikan efek yang berbeda juga dari segi kemudahan transmisi panas ke dalam rumah.

Dalam dunia material/bangunan dikenal sebuah nilai/koefisien bernama R-Value. Nilai ini melambangkan kemampuan material dalam menghalau panas yang merambat dalam sebuah material dengan panjang tertentu. Semakin besar R-Value sebuah material, akan semakin susah panas merambat pada material tersebut. Semakin tebal material akan semakin besar R-Value keseluruhan material ini.

Dua material dinding yang banyak digunakan di Indonesia adalah bata merah dan bata ringan (AAC atau CLC). Menurut tabel R-Value di Wikipedia, bata ringan memiliki R-Value 5x lebih besar dibanding bata merah (brick).

Material dinding lain yang tersedia di sini adalah Expanded Polystyrene (EPS) yaitu bahan sejenis sterofoam. Selain itu ada juga Polyurethane (PU) dan Extruded Expanded Polystyrene (XPS) walau biasanya ditawarkan menjadi unit sandwich panel. Material2 ini memiliki R-Value yang lebih besar lagi dibanding bata ringan.

Gambar diambil dari b-panel.com

Atap

Selain dinding, bagian kulit rumah yang juga banyak menerima panas adalah atap. Teknik yang dipakai dengan dinding juga bisa diterapkan pada atap yaitu dengan menggunakan tambahan material insulasi.

Berdasarkan observasi di YouTube dan Tokopedia 😅 sepertinya rumah-rumah di Indonesia sudah mulai menggunakan material tambahan untuk meredam panas seperti alumunium foil, bubble foil, dan juga glass wool.

Gambar diambil dari gias.co.id

Kaca

Dari segi faktor pendukung kenyamanan rumah, kaca itu bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, semakin banyak kaca maka akan semakin banyak juga cahaya matahari yang masuk yang efeknya bisa membuat rumah terang tanpa bergantung kepada lampu/listrik.

Di sini lain, kaca juga dapat menimbulkan efek rumah kaca dimana panas dari cahaya matahari dapat masuk namun tidak dapat keluar. Kalau seperti ini lama kelamaan suhu dalam ruangan dapat meningkat.

Agar dapat menghalau panas masuk, ada kaca-kaca khusus yang tersedia dan dapat dipakai. Pertama adalah dengan penggunaan kaca dengan lapisan khusus yang tidak mudah merambatkan panas (Low Emissivity/Low-E glass).

Gambar diambil dari build.com.au

Kedua adalah kaca yang memiliki dua atau tiga lapisan kaca yang diberi jarak/rongga. Dengan adanya rongga ini, maka gelombang infra merah yang membawa panas akan terhalau namun cahaya tampak akan dapat tetap masuk ke dalam.

Gambar diambil dari Pharos Glass

Beberapa kaca juga mengkombinasikan beberapa lapisan dan penggunaan Low-E glass untuk meningkatkan kinerja kaca dalam menghalau panas.

Material Pilihan

Berdasarkan pertimbangan harga dan juga kemudahan mendapatkan dan memasang material, dinding rumah yang saya bangun menggunakan bata ringan. Namun agar ada tambahan insulasi, seluruh dinding sisi luar menggunakan bata ringan yang digunakan memiliki tebal 15cm dimana rumah pada umumnya menggunakan ketebalan 10cm. Beberapa segmen dinding juga menggunakan insulasi ekstra dengan menggunakan teknik dinding ganda dengan material rock wool di dalamnya.

Untuk atap saya menggunakan alumunium foil dan glass wool sebagai material insulasi. Seluruh jendela yang ada di rumah menggunakan kaca Low-E dan ada dua buah jendela besar yang menggunakan kaca ganda.

Saya akan membahas lebih detil mengenai insulasi pada tulisan berikutnya.

Referensi Lain

Rumah Hemat Energi

Alhamdulillah tahun ini saya mendapatkan kesempatan untuk membangun rumah dari nol, from scratch. Saya mendapatkan kesempatan untuk menentukan semua material dan teknik konstruksi rumah walau beberapa hal tetap dibatasi dengan ketentuan perumahan dan tentunya dompet.

Salah satu kriteria rumah yang ingin saya capai adalah rumah yang hemat energi. Lebih spesifik lagi yaitu energi listrik.

Menurut analisis saya, salah satu kontributor pemakaian listrik terbesar adalah AC. Tinggal di negara tropis yang panas dan lembab sepertinya AC sudah hampir menjadi kebutuhan utama. Pertanyaannya adalah bagaimana cara mengurangi kebutuhan AC sehingga penggunaan listrik bisa berkurang.

Sudah lebih dari setahun terakhir saya mencari referensi bagaimana supaya tujuan ini tercapai. Kebanyakan sumber-sumber yang saya dapat berasal dari orang yang tinggal di daerah Amerika jadi mungkin tidak bisa langsung diterapkan begitu saja. Mulai dari kebutuhan yang (sedikit) berbeda, kondisi lingkungan yang berbeda, dan juga terkait dengan “kearifan lokal” dari segi teknik konstruksi, ketersediaan material, dan juga keahlian pekerja.

Ada beberapa referensi lokal yang saya temukan juga. Namun sayangnya kebanyakan hanya fokus kepada menjawab bagaimana tapi kurang menjelaskan mengapa teknik yang dicontohkan dapat membantu menghemat energi.

Jadi.. teknik apa saja kah yang akhirnya saya coba pakai? silakan tunggu tulisan-tulisan berikutnya 😁

HJKL

As a Vim user, I know since a long time ago that it has another key combination to do movement, in addition to the obvious arrow keys: HJKL. They are used as left, down, up, and right keys. They supposed to be convenient to use due to their location at the home row of the keyboard. The place where the hands naturally lay on.

HJKL

I had been trying to use them but never feel quite comfortable using it. Maybe it’s just me who don’t “get” it right yet. But this changed since a couple of weeks ago when I decided to change my strategy a little bit.

Previously I would use my index finger to press the H key. Then my middle, ring, and pinky fingers for J, K, and L keys. It felt weird since I had to move my default finger position one button to the left and therefore not placing my index finger on the bump on the J key. Also, I felt my pinky could not press the key firm enough. It’s just not as comfortable as I would imagine.

Then I had an idea what if I still lay my index finger on the J key and use the middle and ring fingers for K and L keys. Whenever I need to move to the left, I would just need to use my index finger again to press the H key. This way, my hand would still have stay on the regular position by default and no need to use my pinky.

After a short while of using it, hey it felt great! I sort of miss them when I am not using Vim. Maybe this is the proper way of using those keys after all?

ESP8266 Programming Using Arduino Uno

Some days ago, I wanted to program an ESP8266 module but somehow it sort-of always failed. Small program worked, but soon I added more into it, it started to fail. The upload process will get stuck and sometimes it eventually finished. But still, I could not get the program to run. If I checked through the serial console, I got the following message, or something similar.

ets Jan 8 2013,rst cause:4, boot mode:(3,7)

I also tried to do the connection more properly, by adding pull-up/down resistors and capacitor, but it did not help. Googling did not give the help that I needed until I someone mentioned to check the serial adapter. Could that be the problem?

Continue reading ESP8266 Programming Using Arduino Uno